Minggu, 23 November 2014

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN INTERNASIONAL


            Analisa laporan keuangan merupakan proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevalusi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang.
Analisis laporan keuangan adalah mengkonversi data dari laporan keuangan menjadi informasi yang bermanfaat. Analisis laporan keunagan menjadi sangat penting karena beberapa hal. Dunia bisnis mengalami pergerakan menuju privatisasi perusahaan publik, liberalisasi perdagangan, investasi dan kebijakan mata uang. Hal ini menimbulkan peningkatan yang tajam dalam perdagangan internasional dan investasi. Perkembangan teknologi seperti pengumpulan informasi, proses informasi, dan komunikasi memungkinkan untuk membuat informasi keuangan dan non keuangan tersedia di seluruh dunia secara online.
            Ketersediaan dan komunikasi informasi sangat penting untuk efisiensi pasar global. Pihak-pihak yang saling melakukan hubungan bisnis seringkali tinggal di negara yang bebeda. Mereka harus mampu untuk mengakses laporan keuangan dan memahaminya untuk membuat keputusan. Pihak-pihak yang melakukan investasi langsung/tidak langsung atau jual beli barang dan jasa di negara lain perlu informasi keuangan untuk melakukan transaksi bisnis. Pada bab ini, akan dijelaskan beberapa alasan penting untuk meningkatkan tingkat kebutuhan akan analisis laporan keuangan.

A.   Alasan-Alasan Untuk Analisis Laporan Keuangan Internasional
Peningkatan aktivitas pasar internasional secara signifikan mengharuskan analisis laporan keuangan. Alasannya antara lain :
1.        Ketersediaan Return yang tinggi pada Investasi di Negara Lain
        Investor, khususnya institutional investor seringkali tertarik dengan return yang tinggi yang dapat mereka peroleh di beberapa negara berkembang di Asia dan Amerika Latin. Return yang tinggi seringkali tidak diperoleh pada investasi dinegara maju. Kesempatan investasi di negara-negara berkembang adalah investasi pada surat-surat berharga perusahaan bisnis dan pemerintahan.

2.        Diversifikasi Risiko
        Investor banyak yang tertarik pada diversifikasi risiko. Mereka menginvestasikan dananya tidak dalam satu jenis perusahaan, tetapi ke beberapa jenis perusahaan untuk menurunkan risiko yang disebabkan oleh fluktuasi return. Jika diinvestasikan pada satu jenis perusahaan, mungkin terjadi fluktuasi return, sehingga mereka mereka memilih diinvestasikan ke beberapa jenis perusahaan dengan harapan resiko yang mereka terima lebih kecil.

3.        Positioning untuk alasan Kompetitif
        Banyak perusahaan melakukan investasi langsung ke negara yang berbeda yang akan mendapatkan posisi pada pasar tertentu. Negara-negara berkembang yang memiliki populasi penduduk yang cukup banyak yang menjadi target konsumen produk-produk dari perusahaan- perusahaan di negara maju. Permintaan konsumen di negara berkembang mengalami peningkatan yang tajam.
        Selain itu, investasi langsung ke negara yang berkembang adalah untuk mendapatkan bahan baku dan tenaga kerja yang lebih murah. Dengan penerapan teknologi, cost produksi lebih murah dengan kualitas yang bagus akan mampu berkompetisi dengan produk perusahaan lain yang sejenis.

4.        Peningkatan Investasi pada Mata Uang Asing
        Ketika mata uang suatu negara menjadi lebih kuat dan bernilai terhadap mata uang negara lain, nilai investasi yang di buat pada mata uang tersebut juga meningkat. Misalnya saja warga negara Indonesia melakukan investasi pada US dolar. Jika nilai dolar naik terhadap rupiah, hal ini akan meningkatkan investasinya.

5.        Tidak Adanya Batasan Kepemilikan Modal di suatu Perusahaan  
        Dulu beberapa negara memberikan batasan kepemilikan modal suatu perusahaan asing terhadap perusahaan nasional. Misalnya saja, Brazil membatasi kepemilikan asing hanya 40% dari total saham. Akan tetapi, sekarang batasan-batasan ini mulai dihapuskan. Sehingga perusahaan asing bisa memilki 100% saham dan mengawasi operasi perusahaan sesuai dengan keinginannya.

6.        Analisis Industri dan Pesaing
        Perusahaan-perusahaan yang ikut serta dalam perdagangan global dan investasi seringkali perlu untuk menganalisis laporan keuangan dari pesaing mereka dan perusahaan terbaik dalam industri. Hal ini membuat mereka tau akan trend terbaru dan memperoleh pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan mereka. Hal ini sangat penting ketika hanya sedikit pemain yang berperan dalam pasar. Banyak keputusan seperti harga barang dan jasa sangat dipengaruhi oleh rencana, strategi, kapasitas, inovasi dan pengembangan yang dilakukan pesaing.

7.        Keputusan-Keputusan yang Terlibat dalam Transaksi Bisnis
        Informasi keuangan sangat diperlukan untuk membuat keputusan dalam menjalankan bisnis. Misalnya saja, sebelum memberikan kredit, kreditur harus tau informasi keuangan debitur untuk memastikan dananya bisa dikembalikan. Laporan keuangan juga sangat membantu dalam negoisasi harga antara penjual dan pembeli.

B.   Masalah yang Muncul Pada Ketersediaan Informasi Keuangan
       Terdapat beberapa faktor yang mempersulit untuk memperoleh dan menggunakan informasi keuangan tentang entitas ekonomi di negara lain. Beberapa permasalahan ini cukup serius dan memerlukan perhatian dari profesi akuntansi, pengawas pasar modal, perusahaan multinasional dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan masalah ini.
Banyak jasa keuangan yang menyediakan informasi keuangan khusus suatu negara dan perusahaan ini. Informasi seperti ini tersedia dalam bentuk hardcopy maupun online. Sekarang kita akan memfokuskan pada beberapa hal yang mengacu pada ketersediaan informasi keuangan di pasar global.
1.      Reabilitas Data
      Banyak negara berkembang tidak memiliki sistem yang mampu mengakumulasi data dan beberapa kasus, data yang dikumpulkan mungkin menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada yang sebenarnya. Data yang tidak reliable ini menjadi masalah umum di negara miskin. Masalah ini tentunya harus dikurangi.
2.      Kecukupan dalam Pengungkapan
      Di banyak negara termasuk di beberapa negara industri pengungkapan biasanya dibatasi hanya untuk memenuhi kewajiban hukum. Beberapa laporan keuangan yang diwajibkan disebagian besar negara tidak dipublikasikan di negara lain.
      Pasar modal global mendorong perusahaan-perusahaan yang ingin mendapakan dana dari sumber-sumber di luar negeri untuk melakukan pengungkapan mengenai berbagai informasi yang dibutuhkan oleh investor, kreditor, pengawas pasar modal, dan pihak-pihak yang berkaitan.
3.      Timeliness of Information
      Agar berguna, informasi harus cukup relevan dan juga tepat waktu hal ini penting bagi pengguna informasi untuk menerima informasi cukup awal sehingga informasi ini relevan dengan kebutuhan. Biasanya, rentang waktu antara akhir tahun dan ketersediaan informai keuangan adalah dalam hitungan bulan. Di banyak negara, laporan keuangan biasa dipublikasikan empat bulan atau lebih dari akhir tahun fiskal. Rentang waktu yang terlalu lama menyebabkan laporan keuangan tidak akurat dan bermanfaat lagi. Dengan pengembangan teknologi dalam pengumpulan data dan pemrosesan informasi, rentang waktu ini dapat diperpendek.
4.      Bahasa dan Terminologi
      Masalah komunikasi yang paling utama adalah mengenai perbedaan bahasa. Untuk mengatasi masalah ini bahasa Inggris menjadi bahasa yang diterima dalam dunia bisnis. Perbedaan terminologi, meskipun menggunakan bahasa yang sama akan menyebabkan kesulitan. Dalam beberapa kasus, perbedaan terminologi memiliki arti yang berbeda sehingga menyebabkan penafsiran yang berbeda pula. Analis keuangan dan investor harus cepat beradaptasi dengan perbedaan terminologi sehingga tidak timbul perbedaan definisi. Misalnya saja pengertian “kas dan setara kas” mungkin berbeda di tiap negara.
5.      Perbedaan Mata Uang
      Perbedaan mata uang yang digunakan perlu suatu penyesuaian. Investor dan analis keuangan harus paham pada perbedaan mata uang yang digunakan dalam laporan keuangan sehingga mereka mampu untuk menganalisis informasi keuangan dengan baik tanpa terganggu perbedaan mata uang.
6.      Perbedaan Format Laporan Keuangan
      Format laporan keuangan tidak sama di tiap negara. Terdapat variasi dalam penyajian, klasifikasi, perbedaan rekening, dan periode yang digunakan untuk membedakan aktiva lancar dan tidak lancar. Hal ini tampak pada penyajian neraca yang berbeda antara perusahaan Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris. Penyajian neraca di Jerman pada bagian debet dimulai dengan Aktiva Tetap diikuti oleh aktiva lancar sedangkan di bagian kredit dimulai dari modal saham diikuti oleh hutang. Aktiva tetap meliputi aktiva tidak berwujud, tanah, bangunan, peralatan, dan investasi. Di Amerika Serikat, aktiva lancar disajikan sebelum aktiva tidak lancar dalam neraca. Aktiva tetap meliputi tanah, bangunan, peralatan dan investasi. Dibagian kredit, utang disajikan sebelum modal saham. Penyajian neraca di Inggris sangat unik. Setelah aktiva tetap (meliputi aktiva tidak berwujud, aktiva berwujud dan investasi), disajikan aktiva lancar kemudian utang lancar. Kemudian total ditunjukkan sebagai total aktiva dikurangi utang lancar. Dibagian kredit disajikan utang (selain utang lancar diikuti modal saham).

C.   Trend Penyajian Laporan Keuangan
       Telah dijelaskan sebelumnya bahwa pengungkapan atas laporan keuangan menjadi trend saat ini. Banyak faktor eksternal yang memepengaruhi trend ini. Institusi seperti IASC, IFAC, Uni Eropa, dan IOSCO menjadi pendorong utama. Institusi tersebut mendorong anggotanya untuk melakukan pengungkapan laporan keuangan secara sukarela. Faktor utama yang memotivasi mereka dalam melakukan pengungkapan adalah untuk kepentingan mereka sendiri. Pemain-pemain dalam perdagangan internasional harus mengungkapkan laporan keuangannya secara sukarela untuk membantu mereka dalam upaya mendapatkan tujuan investasi dan perdagangan.
1.      Perbedaan prinsip akuntansi dan praktek bisnis
      Penyajian laporan keuangan sangat dipengaruhi oleh prinsip akuntansi. Perbedaan praktek akuntansi tentunya akan menimbulkan perbedaan dalam pelaporannya. Hal ini tentunya menjadi penghambat bagi pengguna informasi keuangan yang berasal dari luar negeri dan tidak memahami prinsip akuntansi yang diterapkan di negara itu. Pengungkapan atas laporan keuangan menjadi salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut.
2.      Perbedaan Praktek Bisnis
      Masalah utama dalam analisis laporan keuangan adalah pengaruh lingkungan operasi bisnis yang berbeda. Interpretasi analisis laporan keuangan sulit dilakukan karena perbedaan praktek bisnis antar negara, misalnya saja debt ratio. Perusahaan jepang umumnya memiliki hutang bank yang besar karena sumber pendanaan utama di negara tersebut berasal dari bank. Bank di Jepang bersedia memberikan pinjaman dana yang besar kepada perusahaan yang memiliki earning yang tinggi dengan kata lain perusahaan yang memiliki kinerja yang memuaskan. Hal ini mungkin berbeda jika terjadi di negara lain. Selain itu sangat penting untuk memahami perbedaan budaya dan ekonomi untuk melakukan analisis laporan keuangan secara tepat.

D.   Analisis Laporan Keuangan
       Tujuan dari analisis laporan keuangan adalah untuk menyaring informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan. Untuk memenuhi hal ini, berbagai pendekatan digunakan. Salah satu pendekatan adalah analisis dilakukan pada laporan tahunan yang berisi laporan keuangan, catatan atas laporan keuangan, dan informasi penting lainnya seperti kebijakan manajemen, inovasi dan pengembangan produk, kondisi pasar, dan rencana perusahaan. Review yang menyeluruh terhadap laporan tahunan mungkin dapat memberikan pemahaman atas kinerja perusahaan, posisi keuangan, dan kemungkinan operasional di masa yang akan datang. Pendekatan ini tidak memerlukan pembandingan dengan perusahaan lain. Kelemahannya tidak bisa mengetahui pembandingan secara internasional dengan perusahaan sejenis. Jika terdapat pembandingan antar perusahaan dapat dilakukan analisis dengan dua cara yaitu analisis rasio keuangan dan analisis trend.

1.      Analisis Rasio Keuangan
          Analisis rasio keuangan memberikan informasi awal untuk mengevaluasi kinerja dan posisi keuangan. Ini dapat membantu pengambilan keputusan dalam menilai faktor-faktor seperti resiko kredit dan potensi earning. Analis keuangan harus memahami kerangka akuntansi, praktek bisnis dan lingkungan operasi sebelum melakukan analisis rasio keuangan untuk mencegah analisis yang keliru. Di bawah ini menyajikan penjelasan mengenai rasio yang sering digunakan dalam analisis keuangan.


Rasio Keuangan

Klasifikasi
Deskripsi
Rasio
Perhitungan
Liquidity Ratios (Solvency Ratios)
Mengukur kemampuan jangka pendek perusahaan untuk membayar hutang yang jatuh tempo.
Current Ratio untuk menentukan kemampuan membayar hutang jangka pendek.
Aktiva lancar
Utang lancar
Activity Ratios (turnover ratios/eficiency ratios)
Mengukur efektivitas perusahaan dalam mengelola asetnya
Inventory Turnover untuk mengukur seberapa cepat persediaan yang dapat dijual
HPP
Rata-rata persediaan
Profitability Ratios
Mengukur tingkat keberhasilan atau kegagalan perusahaan untuk periode tertentu
Profit margin
Untuk membandingkan dengan margin pesaing

Rate of return of asset
Mengukur efisiensi laba terhadap aktiva

Rate of return on net worth
Untuk mengukur efisiensi laba terhadap modal saham

Laba bersih
Penjualan




Laba bersih
Rata-rata total aktiva



Laba bersih
Rata-rata net worth
Coverage ratios ( leverage ratios/capital structure ratios)
Mengukur tingkat jaminan untuk kreditor dan investor jangka panjang
Debt ratio
Untuk menganalisis kemampuan membayar utang jangka panjang
Utang jangka panjang
Total aktiva

a.       Keterbatasan Umum Analisis Rasio Keuangan
    Rasio analisis memiliki beberapa keterbatasan disamping kompleksitas yang disebabkan oleh perbedaan standar akuntansi dan praktek bisnis di seluruh dunia.
·         Rasio keuangan didasarkan pada history cost disebagian besar negara. Pengguna laporan keuangan mungkin membuat kesalahan asumsi bahwa cost merefleksikan current cost. Hasilnya mungkin tidak sesuai dengan yang diharapkan.
·         Sejumlah rekening yang timbul dari estimasi, misalnya depresiasi dan amortisasi, rasio keuangan yang dibuat akan memiliki kelemahan dalam efektifitasnya untuk pembandingan antar perusahaan.
·         Perusahaan yang berbeda menggunakan alternatif yang berbeda yang diperbolehkan oleh standar akuntansi. Contohnya meliputi :
-          Penilaian persediaan : LIFO,FIFO
-          Metode depresiasi : garis lurus, doble declining balance
-          Perlakuan luar biasa : penghentian operasi dll
Penggunaan metode yang berbeda membuat pembandingan antar perusahaan sulit dilakukan.
·         Banyak informasi-informasi penting tidak dimasukkan dalam laporan keuangan. Misalnya hubungan dengan tenaga kerja, pengembangan teknologi, investasi pada teknologi baru, dan akitivitas pesaing. Meskipun informasi tersebut penting untuk masa depan perusahaan, tetapi tidak dimasukkan kedalam sistem akuntansi. Tidak adanya informasi seperti ini didalam rasio keuangan menyebabkan manfaat rasio keungan tidak maksimal.
b.      Analisis ratio keuangan internasional
·         Perbedaan kerangka akuntansi di tiap negara menyebabkan pembandingan rasio keuangan sulit dilakukan.
·         Perbedaan lingkungan operasi. Praktik bisnis yang tidak seragam ditiap negara dapat mempengaruhi profit margin. Selain itu, ditiap negara memilki orientasi laporan keuangan yang berbeda, yang menyebabkan perbedaan penyajian laporan keuangan. Di beberapa negara mungkin orientasi laporan keuangan kepada investor, tetapi ada juga negara yang berorientasi kepada kreditor. Jika pengguna rasio keuangan tidak memahami perbedaan tersebut dapat menimbulkan kesimpulan atau keputusan yang salah.
·         Pengaruh pajak. Untuk mengurangi pajak, hal ini menjadi praktek yang umum di beberapa negara untuk menyajikan laporan keuangan yang bertujuan untuk meminimalkan laba yang dilaporkan.
·         Keakuratan data. Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa di sebagian negara berkembang tidak memiliki sistem yang mampu mengumpulkan data yang reliable. Selain itu juga sering ditemukan bahwa data yang ada menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan kenyataannya. Rasio keuangan akan baik jika data yang digunakan juga baik. Rasio keuangan yang dihasilkan dari data yang tidak akurat akan menimbulkan ketidakakuratan.

2.      Analisis Trend
          Analisis ratio hanya untuk satu periode atau satu tanggal tertentu. Analisis trend menyajikan informasi untuk dua atau lebih tanggal atau periode untuk pembandingan. Analisis trend seperti ini memberikan informasi tentang perubahan yang terjadi pada suatu item dan tingkat perubahannya. Biasanya perusahaan menyajikan 5-10 tahun ringkasan untuk item-item tertentu dan rasio-rasio dalam laporan keuangan tahunan.
          Analisis trend dapat digunakan untuk mengevaluasi tingkat pertumbuhan suatu perusahaan dalam rentang waktu tertentu. Selain itu, juga        bisa digunakan untuk membandingkan dengan perusahaan-perusahaan lain. Jika pembandingan dilakukan dengan perusahaan yang menggunakan mata uang yang berbeda, tidak perlu dilakukan konversi mata uang, karena trend yang dihasilkan berupa persentase, bukan dalam jumlah mata uang. Konversi mata uang akan menimbulkan distorsi pada trend yang dibuat, karena biasanya konversi menggunakan nilai tukar tertentu, misalnya nilai tukar akhir tahun, sehingga tidak merefleksikan data yang nyata pada tanggal transaksi.
          Terdapat dua kelemahan utama analisis trend. Pertama, tahun dasar yang digunakan dalam analisis trend berdampak jangka panjang. Munculnya item-item yang tidak biasa pada tahun dasar dapat mendistorsi trend jangka panjang. Kedua, tahun dasar tidak boleh bernilai negatif karena trend tidak dapat dibuat menggunakan nilai negatif.



DAFTAR PUSTAKA

Gernoon, Meek. 2007, Akuntansi Perspektif Internasional (Edisi 5), Yogyakarta: Penerbit Andi.
Trisnawati, Wasisto, dan Sholihin.2005, Akuntansi Internasional,  Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta Edisi 2005-2006.

Etta Nirvanali (2012). “BAB 6 Analisis Laporan Keuangan Internasional” [Internet] 06 Juni. Available from: http://banking.blog.gunadarma.ac.id. (diakses, 13 Desember 2013)

 




PAJAK TANGGUHAN DAN REKONSILIASI LAPORAN KEUANGAN KOMERSIAL KE LAPORAN KEUANGAN FISKAL


Pada dasarnya antara akuntansi pajak dan akuntansi keuangan memiliki kesamaan tujuan, yaitu untuk menetapkan hasil operasi bisnis dengan pengukuran dan rekognisi penghasilan dan biaya, namun ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian, bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tidak sekedar instrument pentransfer sumber daya ( fungsi budgeter ) akan tetapi sering kali digunakan untuk tujuan mempengaruhi perilaku wajib pajak untuk investasi, kesajahteraan dan lain- lain ( fungsi mengatur ) yang kadang – kadang merupakan alasan untuk membenarkan penyimpangan dari standar akuntansi keuangan.
Pada umumnya, bentuk dan isi yang terdapat dalam Surat Pemberitahuan untuk kepentingan perpajakan hamper tidak berbeda jauh dengan bentuk dan isi yang terdapat dalam Laporan Keuangan untuk kepentingan komersial. Penghasilan Kena Pajak ( PKP – Taxable Income ) dihitung berdasarkan Ketentuan Peraturan Perundang- undangan Perpajakan ( KPPP ), sedangkan Penghasilan Sebelum Pajak ( PSP – Accounting Income atau Pretax Accounting Income atau Pretax Book Income ) dihitung berdasarkan standar yang disusun oleh profesi yang dikenal sebagai Standar Akuntansi Keuangan ( SAK ).
Pajak Penghasilan yang dihitung berbasis Penghasilan Kena Pajak yang sesungguhnya dibayar kepada pemerintah disebut “ PPh terutang – Income Tax Payable atau Income Tax Liability “ sedangkan Pajak Penghasilan yang dihitung berbasis Penghasilan Sebelum Kena Pajak disebut sebagai “ Beban Pajak Penghasilan – Income Tax Expense atau Provision for Income Taxes “.

1.            HARMONISASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN
Salah satu cara pendekatan yang diungkapkan oleh kelompok kerja standar akuntansi OECD (organization for economic cooperation development)dalam peraturan perundang-undangan perpajakan dilakukan melalui suatu rekonsiliasi yang merupakan poin kedua dari tiga poin yang diungkapkan OECD menurut hemat kami poin kedua tersebut sesuai dengan kondisi Indonesia yang berbunyi sebagi berikut:
Dalam hal ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan merupakan standar yang independen yang tepisah dari standar akuntansi keuangan maka laporan keuangan dapat disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan dan laporan keuangan fiscal disusun secara terpisah diluar jaringan pembukuan melalui rekonsiliasi.
Dalam pasal 2 surat keputusan Direktur Jenderal Pajak NOMOR:Kep 214/PJ/2001 tanggal 15 maret 2001, tegas dinyatakan bahwa rekonsiliasi laba rugi fiscal termasuk keterangan dan atau dokumen yang harus dilampirkan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Badan. Lengkapnya pasal tersebut berbunyi sebagi berikut:
Pasal 2
Keterangan dan atau dokumen lain yang harus dilampirkan pada surat pemberitahuan tahunan pajak penghasilan wajib pajak badan adalah:
1.      Neraca dan laporan laba rugi tahun pajak yang bersangkutan dari wajib pajak itu sendiri (bukan Neraca Dan Laporan Laba Rugi Konsolidasi)beserta rekonsiliasi laba rugi fiscal.
2.      Daftar penghitungan penyusutan dan amortisasi fiscal
3.      Penghitungan kompensasi kerugian dalam hal terdapat sisa kerugian tahun-tahun sebelumnya yang masih dapat dikompensasikan
4.      Surat setoran pajak penghasilan pasal 29 yang seharusnya dalam hal terdapat kekurangan pajak yang terutang, kecuali ada izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak penghasilan 29
5.      Surat kuasa khusus, dalam hal surat pemberitahuan tahunan ditandatangani oleh bukan wajib pajak
6.      Lampiran-lampiran lainnya yang dianggap perlu untuk menjelaskan penghitungan besarnya penghasilan kena pajak atau besarnya pajak penghasilan pasal 25
Dengan menempatkan kegiatan akuntansi pajak diluar praktik akuntansi keuangan dari laporan fiscal merupakan produk sampingan (by product) dari akuntansi keuangan komersial, dapat dikatakan bahwa akuntansi pajak lebih cenderung mendekati akuntansi manajemen dengan konsep “different statement  for different purposes) laporan keuangan fiscal diperoleh melalui rekonsiliasi dengan penyesuaian ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan terhadap laporan keuangan komersialnya.

2.            PAJAK TANGGUHAN DAN KOMPENSASI KERUGIAN
Pada dasarnya antara akuntansi pajak dan akuntansi keuangan memiliki kesamaan tujuan, yaitu untuk menetapkan hasil operasi bisnis dengan pengukuran dan rekognisi penghasilan dan biaya. Namun ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian, bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tidak sekadar instrument pentransfer sumber daya (fungsi budgeter), akan tetapi seringkali pula digunakan untuk tujuan memengaruhi perilaku wajib pajak untuk investasi, kesejahteraan dan lain-lain (fungsi mengatur) yang kadang-kadang merupakan alasan untuk membenarkan penyimpangan dari standar akuntansi keuangan.
Dilain pihak, atas penghasilan yang diterima atau diperoleh subjek pajak dalam tahun pajak yang bersangkutan, baik subjek pajak orang pribadi maupaun subjek pajak badan dikenakan pajak penghasilan dan untuk menghitung pajak penghasilan tersebut, subjek pajak yang bersangkutan berkewajiban mengisi surat pemberitahuan (SPT) yang disediakan oleh instansi pajak.
Pada umumnya, bentuk dan isi yang terdapat dalam surat pemberitahuan untuk kepentingan perpajakan hampir tidak berada jauh dengan bentuk dan isi yang terdapat dalam laporan keuangan untuk kepentingan komersial. Penghasilan kena pajak (PKP-taxable income), dihitung berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (KPPP), sedang penghasilan sebelum pajak (PSP-Accounting Income atau pretax accounting income atau pretax book income) dihitung berdasarkan standar yang disusun oleh profesi yang dikenal sebagai SAK. Metode Penangguhan Pajak penghasilan
Metode alokasi pajak digunakan untukmempertanggungjawabkan pengaruh-pengaruh pajak dan bagaimana pengaruh-pengaruh tersebut harus disajikan dalam laporan keuangan.
Ada tiga metode untuk mengalokasikan pajak, (Kieso dan Weygant, 2001 : 1067-1068) antara lain :
ž  Deferred method (Metode Penangguhan)
ž  Asset-liability method (Metode Aktiva-Kewajiban)
ž  Net-of-tax method (Metode Bersih dari Pajak)
Kewajiban Pajak Tangguhan dan Aktiva Pajak Tangguhan
Jumlah seluruh taksiran pajak penghasilan (provision for income taxes) adalah jumlah pajak kini (tax currently payable-current tax expense) dan perubahan neto antara aktiva pajak tangguhan (deferred tax assets) dan kewajiban pajak tangguhan (deferred tax liabilities)-deferred tax expense or benefit.
PSAK 46 mendefinisikan beban pajak (tax expense) yang dimaksud sama dengan taksiran pajak penghasilan tersebut, yaitu: Beban pajak (tax expense) atau penghasilan pajak (tax income) adalah jumlah agregat pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax) yang diperhitungkan dalam penghitungan laba atau rugi pada satu periode.
Baik Kewajiban pajak tangguhan maupun Aktiva pajak tangguhan
dapat terjadi dalam hal-hal sebagai berikut (Zein,2007):
(1)   apabila Penghasilan Sebelum Pajak (PSP- Pretax Accounting Income) lebih besar dari Penghasilan Kena Pajak (PKP- Taxable Income) maka Beban Pajak (BP- Tax Expense) pun akan lebih besar dari Pajak Terutang (PT- Tax Payable) sehingga akan menghasilkan Kewajiban Pajak Tangguhan (KPT- deferred tax liability). Kewajiban Pajak Tangguhan dapat dihitung dengan mengalikan perbedaan temporer dengan tarif pajak yang sesuai.
(2) Sebaliknya apabila Penghasilan Sebelum Pajak (PSP) lebih kecil dari Penghasilan Kena Pajak (PKP) maka Beban Pajaknya (BP) akan juga lebih kecil dari Pajak Terutang (PT) sehingga akan menghasilkan Aktiva Pajak Tangguhan (APT- deferred tax assets). Aktiva Pajak Tangguhan adalah sama dengan perbedaan temporer dengan tarif pajak pada saat perbedaan tersebut terpulihkan. Dengan rumus dapat dituliskan sebagai berikut:
Perbedaan Temporer
Perbedaan Temporer x Tarif
Hasilnya
PSP > PKP
BP > PT
Kewajiban Pajak Tangguhan (DTL)
PSP <>
BP <>
Aktiva Pajak Tangguhan (DTA)

3.            ALOKASI PAJAK PENGHASILAN INTERPERIOD
1.      Alokasi Pajak Penghasilan Interperiod (Interperiod Income Tax Alocation)
Perbedaan yang terjadi antara penghasilan sebelum pajak dan Penghasilan Kena Pajak, disebabkan oleh perbedaan permanen dan perbedaan waktu. Perbedaan permanen tidak membutuhkan prosedur Alokasi Pajak Interperiod, sedangkan perbedaan waktu membutuhkan Alokasi Pajak Interperiod, akibat adanya counterbalance pada akhir suatu periode.
2.      Perbedaan Permanen (Permanent Difference)
Perbedaan ini disebabkan oleh kebijakan ekonomi atau disebabkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang menghendaki penghapusan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang memberatkan salah satu sektor dari sub sektor perekonomian. Perbedaan tersebut dapat berupa:
·         Penghasilan tertentu baik sebagian maupun seluruhnya dikecualikan dari pengenaan pajak penghasilan.
·         Kelompok wajib pajak tertentu, baik sebagian maupun seluruhnya dibebaskan dari pembayaran pajak.
·         Pengurangan khusus yang diberikan kepada wajib pajak atau pengurangan secara selektif yang diberlakukan terhadap wajib pajak tertentu.
Dengan demikian akan terjadi perbedaan sebagai berikut.
·         Bagi akuntansi keuangan merupakan penghasilan, tetapi bagi akuntansi pajak penghasilan tersebut bukan merupakan penghasilan atau penghasilan yang ditangguhkan.
·         Bagi akuntansi keuangan sudah merupakan pengeluaran, tapi bagi akuntansi pajak pengeluaran tersebut tidak dapat dikurangkan sebagai biaya.
·         Bagi akuntansi keuangan tidak/belum merupakan biaya, tapi bagi akuntansi pajak pengeluaran tersebut dapat dikurangkan sebagai pajak.
·         Ketentuan penghasilan dan biaya diatur secara khusus, terutama transaksi yang dipengaruhi hubungan istimewa.
3.      Perbedaan Waktu
Perbedaan waktu disebabkan karena perbedaan waktu pengakuan penghasilan, biaya dan beban yang bersifat sementara yang menyebabkan adanya penundaan atau antisipasi penghasilan atau beban. Perbedaan tersebut dapat dibagi dalam empat kelompok yaitu:
Penghasilan yang berdasarkan akuntansi pajak sudah merupakan penghasilan yang sudah dapat dikenakan pajak, tetapi berdasarkan akuntansi keuangan merupakan penghasilan yang masih akan diterima.
·         Penghasilan yang berdasarkan akuntansi pajak sudah merupakan penghasilan yang sudah dapat dikenakan pajak, tetapi berdasarkan akuntansi keuangan merupakan penghasilan diterima di muka.
·         Beban atau pengeluaran yang berdasarkan akuntansi pajak sudah dapat dikurangkan sebagai biaya, tetapi berdasarkan akuntansi keuangan merupakan beban atau pengeluaran yang dibayar di muka.
·         Beban atau pengeluaran yang berdasarkan akuntansi pajak sudah dapat dikurangkan sebagai biaya, tetapi berdasarkan akuntansi keuangan merupakan beban atau pengeluaran yang masih harus dibayar.
Perbedaan tersebut merupakan perbedaan antara metode penyusutan atau amortisasi komersial dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dan metode penilaian persediaan komersial dan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, penghapusan piutang tak tertagih yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dan bukan taksiran piutang tak tertagih berdasarkan persentasi tertentu atau cara-cara lain.

4.            REKONSILIASI LAPORAN KEUANGAN KOMERSIAL KE LAPORAN KEUANGAN FISKAL
Seperti telah diuraikan di muka, Laporan Keuangan yang dihasilkan dan disiapkan dari pembukuan wajib pajak, biasanya dikenal sebagai Laporan Keuangan Komersial yang pada dasarya tidak harus mencemirkan seluruh pertimbangan perpajakan tersebut diatas. Namun dilain pihak perlu disadari bahwa perusahaan sebagai wajib pajak, wajib mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, terutama dalam pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan, yang pada dasarnya bersumber dari laporan keuangan komersial yang mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan dengan data pengisian Surat Pemberitahuan yang mengacu kepada Ketentuan Peraturan Peundang-Undangan Perpajakan terdapat perbedaan yang signifikan.
Solusi antara penerapan standar akuntansi keuangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dilakukan suatu rekonsiliasi. Untuk menyusun rekonsiliasi antara laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan fisik, urutan penyusunannya dapat dilakukan sebagai berikut:
1.      Buat terlebih dahulu daftar penyusunan fiskal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
2.      Penyusutan fiskal tersebut kemudian dialokasikan sesuai dengan pengalokasian yang dilakukan oleh perusahaan.
3.      Susun rekonsiliasi harga pokok produksi.
4.      Susun rekonsiliasi biaya operasional.
5.      Susun rekonsiliasi pendapatan/beban lain-lain.
6.      Susun rekonsiliasi laba/rugi, yang dihimpun dari jumlah-jumlah akhir masing-masing rekonsiliasi sebelumnya.





DAFTAR PUSTAKA
Putra dharma, 2008. Accounting, Financial & Taxation, [internet] 25 maret. Available from:http://putra-finance-accounting-taxation.blogspot.com/ [diakses 1 oktober 2013].
Zain, mohammad.2003. Manajemen Perpajakan.Bandung:Salemba Empat