Minggu, 07 Juni 2015

RISK AND RETURN

Pengertian Risiko dan Tingkat Pengembalian
Risiko dapat dikatakan sebagai suatu peluang terjadinya kerugian atau kehancuran. Lebih luas, risiko dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya hasil yang tidak diinginkan atau berlawanan dari yang diinginkan. Dalam industri keuangan pada umumnya, terdapat suatu jargon “high risk bring about high return”, artinya jika ingin memperoleh hasil yang lebih besar, akan dihadapkan pada risiko yang lebih besar pula.
Risk and return adalah kondisi yang dialami oleh perusahaan, institusi, dan individu dalam keputusan investasi yaitu, baik kerugian maupun keuntungan dalam suatu periode akuntansi. Hubungan antara risiko dengan tingkat pengembalian adalah:
1.   Bersifat linear atau searah.
2.   Semakin tinggi tingkat pengembalian maka semakin tinggi pula risiko.
3.   Semakin besar asset yang kita tempatkan dalam keputusan investasi maka semakin besar pula risiko yang timbul dari investasi tersebut.
4.   Kondisi linear hanya mungkin terjadi pada pasar yang bersifat normal.

Return Investasi
Return merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung risiko atas investasi yang dilakukan Menurut Jones (2002:124), Return saham terdiri dari:
1)      Yield, yaitu cash flow atau arus kas yang dibayarkan secara periodik kepada pemegang saham, biasanya dalam bentuk deviden.
2)      Capital gain, atau capital loss, yaitu selisih antara harga saham pada saat pembelian dengan harga saham pada saat penjualan. Capital gain jika harga saham pada akhir periode lebih tinggi dari harga awalnya, sedangkan capital loss, sebaliknya.
Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return menurut (Jogiyanto, 2010205) dapat dibedakan menjadi:


a)   Return Realisasi (realized return)
Merupakan return yang telah terjadi. Return dihitung berdasarkan data histories, return realisasi penting karena digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja dari perusahaan. Return historis ini juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi (ekspekted return) dan risiko dimasa mendatang. Perhitungan return realisasi disini menggunakan return total. Return total merupakan keseluruhan dari suatu investasi dalam suatu periode tertentu.
b)      Return Ekspektasi (Expected Return)
Merupakan return yang digunakan untuk pengambilan keputusan investasi.  Return ini penting dibandingkan dengan return historis karena return ekspektasian merupakan return yang diharapkan dari investasi yang dilakukan. Perhitungan return ekspektasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Return ekspektasi dapat dihitung dengan metode nilai ekspektasi yaitu mengalikan masing-masing hasil masa depan dengan probabilitas kejadiannya dan menjumlah semua produk perkalian tersebut.

Return Ekspetasi untuk Saham Individual dapat dihitung dengan cara:  
1)      Berdasar nilai ekspetasi masa depan. Return ekspetasi dihitung dari rata-rata tertimbang berbagai tingkat return dengan probabilitas keterjadian di masa depan sebagai faktor penimbangnya.
2)      Berdasar nilai-nilai return historis. Dapat digunakan 3 cara yang berbeda yaitu:
a.       Metode rata2 à dibuat rata-rata dari nilai return masa lalu.
b.      Metode trend à memperhitungkan faktor pertumbuhan dari nilai-nilai return historis.
c.       Metode jalan acak (random walk) à return yang paling mungkin terjadi adalah return terakhir pada periode pengamatan nilai return historis.
3)      Berdasar model return ekspetasi yg ada à CAPM dan APT.



Komponen return adalah 
  • Capital gain/loss (untung/rugi modal) àkeuntungan/kerugian yg diperoleh dr selisih harga jual dr harga beli sekuritas di pasar sekunder à (Pt – Pt-1) / Pt-1
  • Yield (imbal hasil) à pendapatan/ aliran kas yg diterima investor scr periodik, misalnya dividen atau bunga.
  • Total return = capital gain (loss) + yield
  • Total return = (Pt – Pt-1) + Dt / Pt-1

Risiko Investasi
  • Risiko adalah besarnya penimpangan antara return ekspetasi dengan return actual.
  • Ukuran besaran risiko (dalam ilmu statistik) adalah varians dan deviasi standar.
  • Semakin besar penyimpangan (varians) menunjukkan risiko yang semakin tinggi pula.

Pengertian Resiko menurut Keown (1999:216), resiko adalah kemungkinan-kemungkinan bahwa suatu pengembalian akan berbeda dari tingkat pengembalian yang diharapkan. Menurut Jones (2002:134), ada dua tipe resiko, yaitu:
a. Resiko sistematik (Systematic Risk)
Adalah resiko yang berkaitan dengan kondisi yang terjadi di pasar secara umum, yaitu resiko tingkat bunga, resiko politik, resiko inflasi, resiko nilai tukar, dan resiko pasar. Disebut pula resiko tidak diversifikasi. Risiko sistematis (Systematic risk) merupakan risiko yang tidak dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi; berkaitan dengan faktor makro ekonomi yang mempengaruhi pasar (misal: tingkat bunga, kurs, kebijakan pemerintah) à disebut juga sebagai nondiversifiable risk, market risk, atau general risk.  


b. Resiko non-sistematik (Non-Systematic Risk)
Adalah resiko yang berkaitan dengan kondisi perusahaan yang terjadi secara individual, yakni resiko bisnis, resiko laverage, dan resiko likuiditas. Disebut pula resiko diversifikasi, resiko residual, resiko unik, atau resiko khusus perusahaan. Risiko non sistematis (Unsystematic risk) merupakan risiko yang dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi, karena hanya ada dalam satu perusahaan/industri tertentu.
 
Jadi, dapat disimpulkan bahwa resiko adalah kemungkinan terjadinya suatu penyimpangan tingkat pengembalian yang nyata terhadap tingkat pengembalian yang diharapkan. Besarnya nilai resiko dapat dicari dengan menghitung standar deviasi, atau dengan menghitung besarnya varian. Standar Deviasi adalah ,”a statistical measure of the variability of a distribution around its mean. It is the square root of the variance,” Horne and Wachowizc (1998). Resiko investasi pada saham, meliputi: Resiko saham Individu, dan Resiko investasi portofolio.
Berdasarkan kesediaan dalam menanggung risiko investasi, investor dikenal ada 3 yaitu berani mengambil risiko (risk taker), sikap netral terhadap risiko (risk neutral) dan yang tidak berani mengambil risiko (risk averse). Risktaker adalah sikap seorang yang memilih taruhan yang fair sedangkan risk neutral adalah seseorang bersikap indifference terhadap taruhan yang fair, danrisk averse adalah investor akan menolak taruhan yang fair (Husnan, 2003). Masing-masing ini menyebabkan investor mempunyai preferensi yang berbeda dalam melihat suatu portofolio.
Preferensi investor terhadap risiko: 
  • Penyuka/pencari risiko (risk seeker/lover)
  • Netral terhadap risiko (risk neutral)
  • Tdk menyukai/menghindari risiko (risk averter)
  
Sumber risiko investasi dalam saham 
  • Risiko bisnis à risiko untuk menjalankan suatu bisnis di industri tertentu.
  • Risiko suku bunga à perubahan suku bunga mempengaruhi return saham, jika suku bunga naik, maka harga saham akan turun, ceteris paribus.
  • Risiko pasar à fluktuasi pasar secara keseluruhan yang memengaruhi return investasi yang terlihat dari perubahan indeks pasar à faktor ekonomi, politik, kerusuhan, dsb. 
  • Risiko inflasi/daya beli à penurunan daya beli akan membuat investor meminta kenaikan return atas investasi.
  • Risiko likuiditas à kecepatan sekuritas untuk diperdagangkan di pasar sekunder à volume perdagangan.
  • Risiko mata uang à perubahan mata uang suatu negara dengan mata uang negara lainnya.
  • Risiko Negara (country risk) à kondisi perpolitikan suatu Negara.

Analisis Risiko Portofolio:
         Portofolio merupakan kumpulan sekuritas yang dikelola oleh investor untuk memberikan return yang maksimal.
         Portofolio dibentuk melalui diversifikasi untuk menghindari risiko.
         Portofolio yang terdiversifikasi akan memberikan risiko yang lebih rendah.
         Jumlah saham minimal dalam suatu portofolio antara 8 – 20 saham.
         Diversifikasi dapat dibuat secara random atau lewat model tertentu (misalnya Model Markowitz).
         Don’t put your eggs in one basket.
         Markowits mengajarkan risiko portofolio tidak dihitung dari penjumlahan semua risiko aset yang ada dalam portofolio, tapi dihitung dari kontribusi risiko aset tersebut terhadap risiko portofolio (kovarians).
Konsep penting dalam diversifikasi:
         Koefisien korelasi à ukuran statistik yang menunjukkan pergerakan bersamaan relatif (relative comovements) antara 2 variabel à -1< ρ (i,j) < +1.
         Kovarians (covariance)à ukuran statistik yang menunjukkan sejauhmana 2 variabel mempunyai kecenderungan untuk bergerak secara bersama-sama.

Hal penting terkait penggunaan konsep korelasi:
         Penggabungan 2 sekuritas yang berkorelasi positif sempurna tidak akan memberikan manfaat pengurangan risiko.
         Penggabungan 2 sekuritas yang berkorelasi nol, akan mengurangi risiko portofolio secara signifikan.
         Penggabungan 2 sekuritas yang berkorelasi negatif sempurna akan menghilangkan risiko kedua sekuritas tersebut.
         Dalam dunia nyata, ketiga jenis korelasi tersebut sangat jarang terjadi.




DAFTAR PUSTAKA
Ernaeco (2013) Return dan Risiko Investasi [Internet] 13 Maret. Available from: http://infomanajerna.blogspot.com/2013/03/return-risiko-investasi.html [diakses, 06 April 2015].
Ahda Saiful Aziz (2012) Risk and Return [Internet] 18 September. Available from: http://ahdasaifulaziz.blogspot.com/2012/09/risk-and-return.html [diakses, 06 April 2015].
No Name (2008) Return dan Risiko [Internet] 01 Juli. Available from: https://riyatnoke.files.wordpress.com/2008/07/return-dan-risiko.ppt [diakses, 06 April 2015].




EFISIENSI PASAR


Konsep efisiensi pasar membahas bagaimana pasar merespon informasi-informasi yang masuk, dan bagaimana informasi tersebut selanjutnya bisa mempengaruhi pergerakan harga sekuritas menuju harga keseimbangan yang baru. Konsep efisiensi pasar dan konsep model-model keseimbangan merupakan dua buah konsep yang saling terkait, karena konsep model-moel keseimbangan membahas tentang kondisi pasar yang seimbang, dan konsep efisiensi pasar menjelaskan tentang bagaimana proses yang terjadi di pasar dalam pembentukan harga keseimbgangan baru.
Istilah efisiensi pada dasarnya bisa diartikan secara berbeda sesuai dengan konteks penggunaan istilah tersebut. Dari sudut pengalokasian asset, efisiensi bisa diartikan dengan suatu kondisi di mana asset-aset yang ada sudah teralokasikan dengan optimal. Dalam konteks aplikasi teknologi, efisiensi bisa diartikan sebagai pengaplikasian teknologi yang memerlukan biaya operasi paling murah. Jika dilihat dari sudut pandang investasi, efisiensi berarti bahwa harga pasar yang terbentuk sudah mencerminkan semua informasi yang tersedia.
A.  Konsep Pasar Modal yang Efisien
Istilah tentang pasar yang efisien bisa diartikan secara berbeda untuk tujuan yang berbeda pula. Untuk bidang keuangan, konsep pasar yang efisien lebih ditekankan pada aspek informasi, artinya pasar yang efisien adalah pasar di mana harga semua sekuritas yang diperdagangkan telah mencerminkan semua informasi yang tersedia. Dalam hal ini, informasi yang tersedia bisa meliputi semua informasi yang tersedia baik informasi dimasa lalu (misalkan laba perusahaan tahun lalu), maupun informasi saat ini (misalkan rencana kenaikan deviden tahun ini), serta informasi yang bersifat sebagai pendapat/opini rasional yang beredar di pasar yang menuju harga sekuritas bisa mempengaruhi perubahan harga.
Konsep tersebut menyiratkan adanya suatu proses penyesuaian harga sekuritas menuju harga keseimbangan yang baru, sebagai respon atas informasi baru yang masuk ke pasar. Pada waktu tertentu pasar bisa overadjusted atau underadjusted ketika bereaksi terhadap informasi baru, sehingga harga baru yang terbentuk tersebut bisa jadi bukan merupakan harga yang mencerminkan nilai intrinsik dari sekuritas tersebut. Jadi hal yang pening dari mekanisme pasar efisien adalah harga yang terbentuk tidak bias dengan estimasi harga keseimbangan. Harga keseimbangan akan terbentuk setelah investor sudah sepenuhnya menilai dampak dari informasi tersebut. Gambar 1.1 berikut ini memberikan ilustrasi mengenai konsep pasar yang efisien.
Gambar 1.1 Proses Penyesuaian Harga Saham terhadap Informasi
Harga (Rp)
 


1500
                           Pasar
                          Efisien
1200                                                                      
                                                                   pasar tidak efisien
1000                                                          
  500

     -2         -1         0          1          2          T (hari)
Gambar 1.1 memberi gambaran mengenai proses penyesuaian harga suatu perusahaan ketika terdapat informasi baru mengenai perusahaan tersebut. pada saat informasi tersebut diumumkan (t=0) harga saham berada pada posisi Rp 1.000,00. Jika pasar efisien maka informasi tersebut akan dengan cepat tercermin pada harga saham yang baru. Investor akan dengan cepat menyesuaikan harga saham sesuai dengan nilai saham baru. Misalnya karena adanya informasi baru yang masuk ke pasar, dan menyebabkan nilai baru dari saham tersebut adalah Rp 1.200,00, maka dalam pasar yang efisien harga saham akan naik dengan cepat ke nilai Rp 1.200,00.
Tetapi jika proses penyesuaian harga pasar saham tersebut tidak berjalan dengan efisien maka akan ada lag dalam proses tersebut dan hal ini ditunjukkan oleh garis putus-putus pada gambar 1.1. Walaupun akhirnya harga saham akan berada pada Rp 1.200,00, tetapi hal itu akan memakan waktu tertentu. Oleh karena itu, hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa lamanya waktu penyesuaian yang dibutuhkan pada proses tersebut tidak dapat diperkirakan dengan pasti sebelumnya, dan garis putus-putus dalam gambar di atas hanya sebagai ilustrasi guna menjelaskan konsep pasaar yang efisien.
Ada beberapa kondisi yang harus terpenuhi untuk tercapainya pasar yang efisien, yaitu:
1.    Ada banyak investor yang rasional dan berusaha untuk memaksimalkan profit. Investor tersebut secara aktif berpartisipasi di pasar dengan menganalisis, menilai dan melakukan perdagangan saham. Di samping itu, mereka juga merupakan price taker, sehingga tindakan dari satu investor saja tidak akan mampu mempengaruhi harga dari sekuritas.
2.    Semua pelaku pasar dapat memperoleh informasi pada saat yang sama dengan cara yang murah dan mudah.
3.    Informasi yang terjadi bersifat random.
4.    Investor bereaksi secara cepat terhadap informasi baru, sehingga harga sekuritas akan berubah sesuai dengan perubahan nilai sebenarnya akibat informasi tersebut.
Jika kondisi-kondisi tersebut terpenuhi maka akan terbentuk pasar di mana investor-investor dengan cepat bisa bereaksi melakukan penyesuaian harga sekuritas ketika terdapat informasi baru di pasar, sehingga harga-harga sekuritas di pasar tersebut akan sepenuhnya mencerminkan semua informasi yang tersedia.

B.   Hipotesis Pasar Efisien
Aspek penting dalam menilai efisiensi pasar adalah seberapa cepat suatu informasi baru diserap oleh pasar yang tercermin dalam penyesuaian menuju harga keseimbangan yang baru. Pada pasar yang efisien harga sekuritas akan dengan cepat terevaluasi dengan adanya informasi penting yang berkaitan dengan sekuritas tersebut sehingga investor tidak akan bisa memanfaatkan informasi untuk mendapatkan return abnormal di pasar.
Sedangkan pada pasar yang kurang efisien harga sekuritas akan kurang bisa mencerminkan semua informasi yang ada, atau terdapat lag dalam proses penyesuaian harga, sehingga akan terbuka celah bagi investor untuk memperoleh keuntungan degan memanfaatkan situasi lag tersebut.
Fama (1970), mengklasifikasikan bentuk pasar yang efisien ke dalam tiga efficient market hypothesis (EMH), yaitu:
1.    Efisiensi dalam bentuk lemah (weak form). Semua informasi di masa lalu (historis) akan tercermin dalam harg yang terbentuk sekarang. Implikasinya adalah bahwa investor tidak akan bisa memprediksi nilai pasar saham di masa datang dengan menggunakan data historis, seperti yang dilakukan dalam analisis teknikal.
2.    Efisiensi dalam bentuk setengah kuat (semi strong). Bentuk efisiensi pasar yang lebih komprehensif karena dalam bentuk ini harga saham disamping dipengaruhi oleh data pasar (harga saham dan volume perdagangan masa lalu), juga dipengaruhi oleh semua informasi yang dipublikasikan (seperti earning, dividen, pengumuman stock split, penerbitan saham baru, dan kesulitan keuangan yang dialami perusahaan).
3.    Efisiensi dalam bentuk kuat (strong form). Semua informasi baik yang terpublikasi atau tidak dipublikasikan, sudah tercermin dalam harga sekuritas saat ini. Dalam bentuk efisien kuat seperti ini tidak akan ada seorang investor pun yang bisa memperoleh return abnormal.

C.  Pengujian Terhadap Hipotesis Pasar Efisien
1.    Pengujian Prediktabilitas Return
Pengujian hipotesis pasar efisien dalam bentuk lemah bisa diuji dengan melakukan pengujian prediktabilitas return. Pengujian ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
a.    Mempelajari pola return seasonal
b.    Menggunakan data return di masa yang lalu, baik untuk prediktabilitas jangka pendek maupun jangka panjang.
c.    Mempelajari hubungan return dengan karakteristik perusahaan.


Pola Return Sekuritas
Sejumlah penelitian telah menunjukkan adanya suatu pola dalam return sekuritas. Pola tersebut menunjukkan adanya tingkat return yang lebih tinggi atau lebih rendah pada saat tertentu baik dalam periode harian, mingguan, maupun tahunan.
Pola harian. Salah satu pola return yang secara intensif diteliti adalah adanya perbedaan return untuk hari-hari tertentu dalam seminggu.
Pola bulanan. Banyak penelitian menemukan bahwa pada bulan Januari terdapat return yang lebih tinggi dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya dan ini biasanya terjadi pada saham yang nilainya kecil (small stock).
Pada pasar yang efisien, pola seasonal tersebut seharusnya tidak terjadi. Investor yang melihat adanya return yang tinggi di bulan Januari akan mulai melakukan pembelian di akhir bulan Desember untuk mendapatkan return abnormal. Perilaku pembelian investor tersebut akan menyebabkan pola seasonal yang ada menjadi hilang. Tetapi ternyata return tinggi di bulan Desember tidak dapat sepenuhnya dapat dijelaskan dengan baik, sehingga Januari effect merupakan suatu penyimpangan bagi pasar yang efisien.
Memprediksi Return Dari Data Return Di Waktu Lalu
Return di masa lalu dapat digunakan untuk memprediksi return di masa depan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Prediksi Jangka Pendek. Pengujian prediksi jangka pendek biasanya dilakukan untuk mengetahui apakah return pada periode sebelumnya (biasanya sehari atau beberapa hari sebelumnya) dapat digunakan untuk memprediksi return hari ini. Ada beberapa cara pengujian yang dapat dilakukan yaitu:
a.    Uji Korelasi
Uji korelasi adalah pengujian hubungan linier antara return hari ini dengan return di waktu lalu. Semakin tinggi korelasi antara return masa lalu dengan return saat ini, berarti semakin tinggi kemampuan return masa lalu tersebut untuk memprediksi return masa depan.
Secara sistematis, bentuk persamaannya bisa ditulis sebagai berikut:
rt = a + brt-1 + et
di mana a menunjukkan tingkat return yang diharapkan yang tidak berhubungan dengan return sebelumnya, dan b menunjukkan besarnya hubungan antara return di waktu yang lalu dengan return hari ini. Jika t = 0 akan menunjukkan hubungan antara return hari ini dengan return sehari sebelumnya, sedangkan jika t = 1 menunjukkan hubungan return hari ini dengan return dua hari sebelumnya dan seterusnya. Sedangkan, e merupakan angka random yang merupakan variabilitas yang tidak berhubungan dengan tingkat return sebelumnya.
b.    Run Test
Koefisien korelaasi cenderung sangat dipengaruhi oleh data return yang bersifat ekstrim. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu alternatif analisis yang bisa menghilangkan dampak dari data yang ekstrim tersebut, yaitu dengan memberikan tanda pada perubahan harga. Teknik analisis ini tidak akan terpengaruh oleh adanya perubahan-perubahan harga yang ekstrim dan disebut sebagai analisis run.
Kesimpulan dari hasil uji korelasi dan run test ini bahwa sering terdapat adanya indikasin hubungan yang positif antara return hari ini dengan return yang telah lalu, meskipun secara rata-rata hubungan tersebut masih bersifat sangat lemah. Bahkan kadangkala sering juga ditemui adanya korelasi yang bersifat negatif antara return sekarang dengan return yang lalu.
c.    Filter Test
Cara sederhana untuk menguji keberadaan pola return yang lebih kompleks adalah dengan menguji apakah ada strategi perdagangan (trading rule) berdasarkan informasi harga di masa lalu yang dapat digunakan oleh investor untuk mendapatkan return abnormal di pasar. Teknik analisis tersebut sering disebut dengan filter rule.
Teknik analisis filter rule biasanya dilakukan dengan membandingkan return yang didapat jika melakukan strategi perdagangan aktif tertentu dengan return yang didapat jika investor melakukan strategi beli dan simpan (buy and hold strategy).
Pengujian mengenai filter rule secara intensif pernah dilakukan oleh Fama dan Blume (1966) dengan membandingkan return yang menggunakan strategi filter rule dengan strategi buy and hold. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa strategi dengan menggunakan filter rule ternyata relatif kurang menguntungkan dibandingkan dengan strategi buy and hold.
d.   Relative Strength
Salah satu cara yang banyak dikenal untuk mengkombinasikan informasi harga sekuritas di masa lalu untuk memilih saham adalah dengan cara yang disebut sebagai kekuatan relatif (relative strength).
Prediksi Jangka Panjang. Fama dan French (1988) serta Poterba dan Summers (1988) telah meneliti korelasi return dengan jangka waktu pengujian yang relative lama. Fama dan French melakukan pengujian dengan menggunakan data periode 1926-1985, dan menemukan bahwa terdapat korelasi sebesar -0,25 untuk jangka waktu tiga tahun dan korelasi sebesar -0,40 untuk jangka waktu empat tahun. Sedangkan Poterban dan Summers, melakukan pengujian dengan menggunakan metodologi yang berbeda, dan juga menemukan hal yang hampir sama. Tetapi hasil ini banyak diragukan karena adanya kelemahan dalam statistik dan setelah tahun 1940 korelasi tersebut sangat kecil dan tidak signifikan.
Hubungan Return dan Karakteristik Perusahaan
Hubungan antara karakteristik perusahan dengan return abnormal dinyatakan sebagai sebuah anomali dalam pasar efisien, karena dalam pasar yang efisien, secara teoritis tidak ada seorang investor pun bisa memperoleh return abnormal dengan menggunakan informasi karakteristik perusahaan.
a.    Size effect. Banz (1981) menunjukkan bukti empiris paling awal mengenai adanya size effect, yaitu adanya kecenderungan saham-saham perusahaan kecil yang mempunyai return yang lebih tinggi disbanding saham-saham perusahaan besar.
b.    Nilai pasar dibagi dengan nilai buku (market to book value). Fama dan French (1991), Lakonishok, Shleifer dan Vishny (1993), serta Cahn, Hamao dan Lakonishok (1991) melakukan penelitian tentang hubungan nilai market to book dengan return saham. Mereka menemukan bahwa ada perbedaan return antara saham yang mempunyai market to book value yang tinggi disbanding saham yang mempunyai market to book value rendah.
c.    Earning price. Basu (1977) pernah melakukan penelitian mengenai hubungan antara rasio earning/price (E/P) dengan tingkat return abnormal yang diperoleh dengan menggunakan CAPM. Reinganum (1981) menemukan bukti empiris bahwa dampak E/P ini sangat berhubungan dengan size effect, bahkan Fama dan French (1991) menemukan bahwa jika dilakukan pengendalian terhadap faktor ukuran perusahaan dan market to book,  maka dampak E/P ini akan hilang.
Prediksi Return Jangka Panjang Dengan Menggunakan Karakteristik Perusahaan Dan Pasar.
Return obligasi dan saham dalam jangka panjang cenderung dapat diprediksi dengan menggunakan data yang berhubungan dengan tingkat return pasar dan struktur tingkat suku bunga. Proporsi return jangka panjang yang dapat dijelaskan oleh data-data tersebut terlihat relatif tinggi. Fama dan French (1988) menemukan bahwa 25% return selama dua sampai empat tahun dapat dijelaskan dengan menggunakan data karakteristik paasar.
2.    Event Studies
Pengujian hipotesis pasar efisien dalam bentuk setengah kuat bisa dilakukan dengan pengujian event studies, untuk mengamati pengaruh pengumuman suatu informasi terhadap perubahan harga sekuritas.
Penelitian yang mengamati dampak dari pengumuman informasi terhadap harga sekuritas sering disebut dengan event studies. Penelitian ini umumnya berkaitan dengan seberapa cepat suatu informasi yang masuk ke pasar dapat tercermin pada harga saham.
Standar metodologi yang biasanya digunakan dalam event studies ini adalah:
a.    Mengumpulkan sampel, yaitu perusahaan-perusahaan yang mempunyai pengumuman yang mengejutkan pasar (event). Perubahan harga dapat terjadi jika ada event yang mengejutkan pasar misalnya adanya pengumuman perusahaan yang akan melakukan merger, stock split, penerbitan saham baru atau pengumuman mengenai earning perusahaan.
b.    Menentukan hari pengumuman atau event.
c.    Menentukan periode pengamatan. Periode pengamatan biasanya dihitung dalam hari. Jika penelitian menghitung 30 hari sekitar pengumuman, maka 15 hari sebelum pengumuman ditandai dengan -15, -14, -13,…, -1. Sedangkan hari pengumuman akan ditandai dengan 0 dan 15 hari sesudahnya ditandai dengan +1, +2, +3, …, +15.
d.   Mengitung return masing-masing sampel setiap hari selama periode pengamatan.
e.    Menghitung return abnormal, yang dihitung dengan mengurangi return aktual yang sebenarnya terjadi dengan return yang diharapkan.
Return abnormal = ARit = Rit – E(Rit)
Di mana:
ARit   = tingkat return abnormal sekuritas i pada waktu t
Rit       = return sekuritas i pada waktu t
E(Rit)     = return yang diharapkan pada sekuritas i dalam periode t dengan menggunakan model keseimbangan.
f.     Menghitung rata-rata return abnormal semua sampel setiap hari.
g.    Terkadang return abnormal harian tersebut digabungkan untuk menghitung return abnormal kumulatif selama periode tertentu.
h.    Mempelajari dan mendiskusikan hasil yang diperoleh.
3.    Pengujian Private Information
Pengujian hipotesis pasar efisien dalam bentuk kuat bisa dilkaukan dengan pengujian private information. Pengujian ini meliputi pengujian apakah pihak insider perusahaan dan kelompok investor  tertentu yang dianggap mempunyai akses informasi lebih baik, dapat memperoleh return abnormal dibandingkan dengan return pasar umumnya.
Insider trading. Pihak-pihak yang disebut insider adalah direktur, manajer, karyawan atau pemegang saham yang dianggap bisa mendpaatkan informasi yang sesungguhnya mengenai perusahaan yang tidak dapat dilakukan oleh pihak lainnya. Pihak insider ini bisa memperoleh informasi sebelum informasi tersebut dipublikasikan. Dengan demikian, mereka akan dapat memanfaatkan kemudahan akses informasi tersebut untuk memperoleh return abnormal.
Pihak insider umumnya diharuskan melaporkan kegiatan perdagangannya kepada suatu komisi yang bertindak sebagai pengawas bursa. Investor lain yang bukan insider dapat menggunakan informasi tersebut untuk mendapatkan return di pasar. Rozeff dan Zaman (1988), menemukan bahwa investor yang bukan insider ternyata juga memperoleh return dengan menggunakan informasi yang terpublikasi serta memperhatikan transaksi yang dilakukan oleh insider.
D.  Implikasi Pasar Modal yang Efisien
Investor yang percaya bahwa pasar dalam kondisi yang tidak efisien akan menerapkan strategi perdagangan aktif. Investor tersebut secara aktif melakukan perdagangan di pasar agar bisa mendapatkan return yang lebih besar dibandingkan dengan return pasar. Untuk itu mereka akan melakukan analisis-analisis baik analisis teknik maupun analisis fundamental. Investor yang percaya mengenai adanya pola tertentu dalam pergerakan harga yang dapat digunakan untuk memperoleh return akan melakukan analisis teknikal untuk menentukan nilai intrinsik dari suatu sekuritas. Bagi investor yang percaya dalam kondisi efisien, akan cenderung menerapkan strategi perdagangan pasif, dengan membentuk portofolio yang bisa mereplikasi indeks pasar. Investor seperti ini percaya bahwa tidak ada satu investor pun yang dapat memperoleh return yang lebih besar dari return pasar.
Implikasi hipotesis pasar efisien terhadap investor yang berinvestasi di pasar modal bisa dilihat dari implikasinya terhadap investor yang menerapkan analisis teknikal maupun analisis fundamental dalam penilaian dan pemilihan saham.
Bagi investor yang menerapkan analisis teknikal mereka pada dasarnya percaya bahwa pergerakan harga saham di masa datang bisa diprediksi dari data pergerakan harga saham di masa lampau. Dengan demikian, investor yang menerapkan analisis teknikal akan bergantung pada informasi masa lalu tentang data harga dan volume perdagangan saham untuk memperkirakan harga saham di masa datang. Dalam situasi seperti ini, jika hipotesis pasar efisien dalam bentuk lemah benar, maka tindakan investor yang melakukan analisis teknikal sudah tidak akan member nilai tambah lagi bagi investor, karena harga pasar saham yang terjadi sudah mencerminkan semua informasi pergerakan harga dan volume saham historis.
Implikasi hipotesis pasar efisien terhadap investor yang melakukan analisis fundamental adalah sebagai berikut: analisis fundamental adalah analisis saham yang dilakukan dengan mengestimasi nilai intrinsic saham berdasar informasi fundamental yang telah dipublikasikan perusahaan. Dalam situasi seperti ini, jika hipotesis pasar efisien dalam bentuk setengah kuat adalah benar, di mana semua informasi fundamental yang dipublikasikan perusahaan sudah tercermin dalam harga pasar, maka tindakan investor yang melakukan analisis fundamental untuk memperoleh abnormal return juga sudah tidak bermanfaat lahi.

Sumber:
Eduardus Tandelilin. 2010. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi pertama.